Welcome to mosaik-pena

Share your thoughts here

Member Login


Tamu Teristimewa


[Author: Sukmawati, Posted on: 2015-04-01 11:24:35]

Oleh: Umi Fadillah

Jika biasanya kata istimewa dekat dengan kata spesial dan khusus, tapi kali ini istimewa namun kehadirannya tidak pernah dinanti, kedatangannya selalu membuat kerabat, teman dekat, sahabat sanak famili menangis bahkan histeris hingga pingsan. Dia memang akan hadir dan pasti semua akan bertemu dengannya tanpa kecuali, entah siap atau tidak. Dia akan datang menjemput kita dengan caranya masing-masing. Dengan cara yang indah, atau hadir dengan wajah yang hitam legam dan seram.

Tamu istimewa itu adalah dia malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk mencabut nyawa kita. Datang tanpa kita undang, hadirnya pun terkadang tak mampu kita terka. Dia datang atas perintah Allah Azza Wa Jala. Bila ruh itu akan terlepas dari jasadnya maka rasa sakitnya itu bagai tusukan tiga ratus pedang, Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi). Merintih dan menangis pun tak lagi ada yang mampu mendengarnya, meratap dan mengharap agar ditunda datangnya pun tak ada satu makhluk yang mampu membantunya, jika ia telah datang dihadapan maka tak mungkin mundur untuk berbalik arah. Tidak ada satu pun tanpa kecuali yang mempu menghindari.

Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari). Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

Saat itu setelah tamu teristimewa itu datang maka hanya akan bisa melihat mereka yang hadir menangisi kita terbujur kaku dalam keranda kayu bersama tubuh berbalut kain putih, hanya amal yang menyertai, harta dan kerabat tak satu pun bersama kita dalam penantian, dalam kotak tanah berukuran dua kali satu meter.

Most Commented